SUKABUMI— Senyum kecil Zihad Alfaritsi Eriansyah (7) tak mampu menyembunyikan derita yang ia tanggung sejak usia satu tahun. Bocah asal Kampung Kubang, Desa Pasir Datar Indah, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, divonis mengidap Candidiasis —penyakit langka yang menyerang tubuh dan sulit disembuhkan secara tuntas.
Putra ketiga pasangan Heri Eriansyah dan Yati Rohayati ini mulai menunjukkan gejala saat mulutnya dipenuhi bercak putih. Seiring waktu, bercak menyebar ke tangan dan tubuhnya, bahkan membentuk pola seperti lingkaran obat nyamuk.
“Waktu Zihad umur dua tahun, bercak makin parah. Dikasih salep malah melebar,” kenang Yati, sang ibu.
Meski pengobatan rutin dilakukan, penyakit itu terus datang kembali. Keluarga sederhana ini telah berkeliling dari Sukabumi hingga Bandung, namun belum menemukan solusi tuntas. Harapan sempat muncul saat dokter menyarankan rujukan ke RSCM Jakarta, namun biaya menjadi penghalang besar.
“Kami hanya bisa berjuang sebisanya. Kalau Allah kasih jalan, mudah-mudahan ada yang menolong Zihad,” ucap Heri, ayah Zihad.
Sejak 2024, harapan itu mulai tumbuh lewat pendampingan dari Kristiawan Saputra, pendiri Sahabat Kristiawan Peduli. Ia aktif menggalang dukungan masyarakat dan mendampingi keluarga Zihad secara intensif.
“Penyakit Zihad butuh penanganan serius dan akses pengobatan optimal. Semoga lebih banyak tangan ikut meringankan,” kata Kristiawan.
Pemerintah desa pun turut bergerak. Kepala Desa Pasir Datar Indah, Samsul Arifin, memastikan dokumen administrasi Zihad telah lengkap dan pihaknya terus mendorong solusi cepat. “Kami dari pemdes tak tinggal diam. Zihad harus segera mendapat penanganan terbaik,” tegasnya.
Di tengah keterbatasan, Zihad tetap menjadi simbol keteguhan. Ia hanya ingin sembuh, bisa sekolah, dan bermain seperti anak-anak lain. Harapan itu kini bergantung pada kepedulian banyak pihak—dari tetangga, relawan, hingga pemerintah.(*)












