Nasional

Jeritan Sejangkung: Sungai Sambas Tercemar Racun PETI dari Hulu Ledo

×

Jeritan Sejangkung: Sungai Sambas Tercemar Racun PETI dari Hulu Ledo

Sebarkan artikel ini
Jeritan Sejangkung: Sungai Sambas Tercemar Racun PETI dari Hulu Ledo
Sungai Sambas Tercemar Racun PETI dari Hulu Ledo

Kekhawatiran terbesar kandungan merkuri dan bahan kimia berbahaya yang diduga dibuang langsung ke aliran sungai.

– Dampak Lingkungan

Air sungai berubah warna menjadi kuning kecokelatan, tak lagi layak konsumsi. Populasi ikan menyusut, biota sungai mati, dan ekosistem runtuh.

– Dampak Sosial dan Ekonomi

Warga dipaksa membeli air bersih dengan harga mahal. Biaya hidup melonjak, terutama bagi petani dan nelayan.

Tradisi mandi, mencuci, dan memasak di sungai yang diwariskan turun-temurun kini hilang.

Emas Hilir Derita

Dari penelusuran warga dan pemerintah daerah, dugaan kuat mengarah pada PETI di Kecamatan Ledo, Kabupaten Bengkayang.

Aktivitas penambangan emas tanpa izin di sepanjang hulu sungai memicu aliran limbah langsung masuk ke badan air.

Bahan kimia berbahaya seperti merkuri dan sianida yang digunakan untuk memisahkan emas, dibuang tanpa proses pengolahan limbah.

Semua larut, hanyut ke Sungai Sambas, dan sampai ke hilir. Sepuluh desa di Sejangkung pun menjadi korban paling terdampak.

Siapa Menjaga Sungai?

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada Pidato Kenegaraan 16 Agustus 2025 menegaskan pentingnya penegakan hukum terhadap penambangan ilegal.

Instruksi jelas diberikan kepada aparat penegak hukum untuk menindak tegas pelaku, cukong, dan pelindung aktivitas (Penambangan Emas Tanpa Izin) PETI.

Namun, warga Sejangkung masih menunggu bukti nyata. Harapan mereka sederhana:

– Tindakan tegas menghentikan aktivitas PETI.

– Investigasi lingkungan menyeluruh untuk mengukur kandungan berbahaya di air.

– Pemulihan ekosistem dan penyediaan air bersih.

– Jaminan kesehatan bagi warga terdampak.

Ketua Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Kecamatan Sejangkung, Roi’e Ali,
menutup laporannya dengan kalimat penuh harap.

“Pencemaran Sungai Sambas bukan hanya soal keruhnya air, tapi tentang keruhnya masa depan. Jika sungai mati, maka matilah kami sebagai penjaga bantaran ini,” ucap Roi’e Ali mengingatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *