SUKABUMI — Sesar Cimandiri, sebuah patahan aktif yang membentang di wilayah selatan Jawa Barat, kembali menjadi sorotan publik setelah disebut sebagai pemicu sejumlah gempa bumi di kawasan Sukabumi dan sekitarnya. Sesar ini dikenal sebagai salah satu sesar paling aktif di Indonesia, dengan potensi seismik yang signifikan bagi wilayah berpenduduk padat.
Sesar Cimandiri memanjang sekitar 100 kilometer, dari muara Sungai Cimandiri di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, hingga ke wilayah Padalarang di Kabupaten Bandung Barat, dan bertemu dengan Sesar Lembang serta Sesar Baribis. Jalur sesar ini berarah Timur Laut–Barat Daya, dengan jenis pergerakan strike-slip atau geser mendatar miring.
Menurut Badan Geologi, sesar ini terbagi menjadi lima segmen utama di Sukabumi, yaitu:
- – Cimandiri Pelabuhan Ratu–Citarik
– Citarik–Cadasmalang
– Ciceureum–Cirampo
– Cirampo–Pangleseran
– Pangleseran–Gandasoli
Sesar Cimandiri terbentuk sejak jutaan tahun lalu, tepatnya pada masa akhir Eosen tengah, sebagai hasil dari aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Sunda . Proses tektonik ini menyebabkan terbentuknya cekungan dan perbukitan purba di kawasan Lembah Cimandiri dan Ciletuh.
Aktivitas sesar ini tercatat menyebabkan beberapa gempa besar, termasuk gempa Cianjur pada 21 November 2022 yang menewaskan lebih dari 300 orang dan merusak ribuan rumah. BMKG menyebut gempa tersebut sebagai gempa dangkal akibat pergerakan sesar Cimandiri, dengan mekanisme geser horizontal.












