Berita Sukabumi

Asal Usul Kecamatan Nagrak: Dari Gerbang Kerajaan ke Wilayah Strategis Sukabumi

×

Asal Usul Kecamatan Nagrak: Dari Gerbang Kerajaan ke Wilayah Strategis Sukabumi

Sebarkan artikel ini
Asal Usul Kecamatan Nagrak
Asal Usul Kecamatan Nagrak

SUKABUMI —  Kecamatan Nagrak, yang kini menjadi salah satu wilayah administratif di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menyimpan jejak sejarah panjang yang berakar dari masa kerajaan Sunda. Nama “Nagrak” berasal dari salah satu kampung tua yang dahulu menjadi pusat aktivitas masyarakat dan pemerintahan lokal. Wilayah ini dikenal sebagai tempat berdirinya Gerbang Panto Bangongong yang disebut Lawanggintung, serta Pesanggrahan Galuh Sangkuang, yang konon didirikan oleh Prabu Surya Kencana, seorang tokoh legendaris yang menikahi putri dari Raja Parung Kuyah, Prabu Surgia Dadang.

Desa Nagrak secara administratif mulai berdiri pada tahun 1892, dipimpin oleh kepala desa pertama bernama Mardasim, seorang tokoh masyarakat dari Kampung Nagrak. Namun pada tahun 1911, wilayah ini mengalami pemekaran menjadi dua desa: Desa Nagrak dan Desa Cikawao. Ironisnya, kampung Nagrak yang menjadi asal nama desa justru kini berada di wilayah Desa Cikawao.

Selain nilai historis, Nagrak juga memiliki daya tarik geografis. Terletak di kaki Gunung Gede, wilayah ini memiliki udara sejuk dan tanah subur, menjadikannya ideal untuk pertanian dan perkebunan. Salah satu kawasan yang terkenal adalah Perkebunan Sinagar, yang pada masa kolonial menjadi destinasi favorit para pelancong Eropa dan Amerika. Bahkan, penulis dan fotografer asal AS, Eliza R. Scidmore, menyebut Sinagar sebagai “dunia kecil” yang indah dan menggambarkannya dalam bukunya Java: Garden of the East.

Kini, Kecamatan Nagrak berkembang sebagai wilayah strategis yang menghubungkan berbagai kecamatan di Sukabumi utara. Meski modernisasi terus berjalan, jejak sejarah dan nilai-nilai tradisional Sunda tetap hidup dalam budaya masyarakatnya. Dari gerbang kerajaan hingga perkebunan kolonial, Nagrak adalah cerminan perjalanan panjang sebuah wilayah yang terus tumbuh tanpa melupakan akar sejarahnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *