SUKABUMI — Di pesisir selatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terbentang sebuah wilayah yang tak hanya memikat dengan keindahan alamnya, tetapi juga menyimpan jejak sejarah dan legenda yang kuat: Kecamatan Palabuhanratu. Nama “Palabuhanratu” berasal dari dua kata dalam bahasa Sunda— palabuhan (pelabuhan) dan ratu (pemimpin wanita)—yang diyakini merujuk pada tempat singgah seorang tokoh perempuan penting dalam sejarah lokal.
Konon, jauh sebelum menjadi pusat pemerintahan dan pariwisata, kawasan ini adalah tempat pelarian seorang putri dari Kerajaan Pajajaran. Dalam berbagai versi tutur masyarakat, sang putri adalah keturunan Prabu Siliwangi yang menolak dijodohkan dan memilih hidup menyendiri di selatan. Ia menetap di muara Sungai Cibareno dan mendirikan permukiman bersama para pengikutnya. Masyarakat menyebutnya sebagai “Ratu Puun”—pemimpin adat dan spiritual yang dihormati.
Seiring waktu, nama Palabuhanratu mulai dikenal luas. Pada masa Hindia Belanda, kawasan ini disebut Wijnkoopsbaai atau “Teluk Pedagang Anggur” karena menjadi titik perdagangan penting. Catatan kuno menyebut bahwa pada tahun 1687, seorang sersan Belanda bernama Scipio menyebut wilayah ini sebagai “Muara Ratu,” menandakan eksistensi sosok perempuan pemimpin yang menjadi ikon kawasan tersebut.
Namun, legenda Palabuhanratu tak berhenti di situ. Mitos tentang Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan, begitu melekat di wilayah ini. Ia digambarkan sebagai sosok wanita berwibawa yang mengenakan kebaya hijau dan diyakini memiliki kerajaan gaib di dasar samudra. Pantai-pantai seperti Karang Hawu dan Citepus dianggap sebagai gerbang menuju alam mistis sang ratu laut. Bahkan, hingga kini, masyarakat percaya bahwa mengenakan pakaian hijau di sekitar pantai bisa “memanggil” perhatian Nyi Roro Kidul.
Secara administratif, Palabuhanratu kini menjadi ibu kota Kabupaten Sukabumi dan terdiri dari 9 desa serta 1 kelurahan. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Samudra Hindia di barat dan selatan, menjadikannya pusat strategis untuk sektor perikanan, pariwisata, dan pemerintahan.
Palabuhanratu bukan sekadar kecamatan pesisir. Ia adalah ruang hidup yang dibentuk oleh sejarah, mitos, dan semangat masyarakatnya. Dari pelabuhan sang ratu hingga legenda laut selatan, Palabuhanratu terus tumbuh sebagai simbol kekuatan budaya dan daya tarik spiritual yang tak lekang oleh waktu.(*)












