SUKABUMI — Jalan Suryakencana, yang membentang di jantung Kota Sukabumi, bukan sekadar jalur transportasi. Jalan ini menyimpan jejak sejarah panjang, menjadi pusat kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya warga Sukabumi sejak masa kolonial Belanda hingga kini.
Nama “Suryakencana” berasal dari bahasa Sanskerta: Surya berarti matahari, dan Kencana berarti emas. Secara harfiah, nama ini melambangkan kemakmuran dan keindahan, sejalan dengan peran jalan ini sebagai pusat aktivitas masyarakat.
Pada awal abad ke-20, Jalan Suryakencana dibangun sebagai bagian dari pengembangan kota oleh pemerintah Hindia Belanda. Kawasan ini menjadi penghubung vital antara pusat pemerintahan, pasar, dan pemukiman warga. Seiring waktu, jalan ini berkembang menjadi pusat perdagangan, dengan deretan toko, pasar tradisional, dan bangunan berarsitektur kolonial yang masih berdiri hingga kini.
Tak hanya menyimpan nilai sejarah, Jalan Suryakencana juga menyimpan cerita mistis yang berkembang di masyarakat. Di sekitar Stadion Suryakencana, terdapat sebuah batu hitam besar yang disebut-sebut berusia ribuan tahun. Warga setempat menyebut batu tersebut sebagai “paku lembur” atau penanda batas wilayah. Konon, batu ini tidak bisa dipindahkan meski menggunakan alat berat, dan dikaitkan dengan mitos ular besar tanpa kepala yang pernah terlihat di sekitarnya.
Meski berada di tengah kota, Jalan Suryakencana tetap menjadi ruang hidup yang dinamis. Festival budaya, kegiatan komunitas, dan aktivitas ekonomi terus berlangsung di sepanjang jalan ini. Pemerintah Kota Sukabumi pun menjadikan kawasan ini sebagai salah satu prioritas penataan kota, mengingat nilai historis dan potensi pariwisatanya.
Hingga kini, Jalan Suryakencana tetap menjadi simbol penting dalam perkembangan Sukabumi. Ia bukan hanya jalan, tetapi cermin perjalanan kota dari masa ke masa — dari kolonialisme, kemerdekaan, hingga era modern yang terus bergerak.(*)












