SUKABUMI – Gunung Salak, yang terletak di perbatasan Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, merupakan salah satu gunung berapi aktif yang menyimpan pesona alam sekaligus cerita mistis. Dengan ketinggian mencapai 2.215 meter di atas permukaan laut, gunung ini menjadi destinasi favorit bagi pendaki dan peneliti lingkungan.
Secara geologis, Gunung Salak merupakan stratovolcano tipe A yang tergolong tua. Letusan terakhir tercatat pada tahun 1938 berupa erupsi freatik di Kawah Cikuluwung Putri⁽¹⁾. Kawah Ratu, yang menjadi daya tarik utama, masih menunjukkan aktivitas vulkanik berupa uap belerang.
> “Gunung Salak memiliki morfologi yang kompleks, dengan jurang curam dan hutan lebat yang menutupi seluruh tubuh gunung. Ini membuat kontur gunung sulit terlihat dari kejauhan,” tulis laporan geologi⁽¹⁾.
Gunung Salak juga menjadi bagian dari Taman Nasional Gunung Halimun-Salak sejak tahun 2003, yang melindungi ekosistem flora dan fauna di sekitarnya. Hutan tropisnya menjadi rumah bagi spesies langka seperti macan tutul, lutung jawa, dan anggrek liar⁽²⁾.
Nama “Salak” bukan berasal dari buah salak, melainkan dari bahasa Sanskerta salaka yang berarti “perak”, merujuk pada kilauan puncaknya saat terkena sinar matahari⁽²⁾.
Selain keindahan alam, Gunung Salak juga dikenal dengan aura mistis. Penduduk lokal menganggapnya sebagai tempat suci, dan gunung ini sering dikaitkan dengan kecelakaan pesawat, termasuk insiden Sukhoi Superjet 100 pada tahun 2012⁽²⁾.
Gunung Salak memiliki beberapa jalur pendakian, seperti:
- – Jalur Cidahu (Sukabumi)
– Jalur Pasir Reungit (Bogor)
– Jalur Kawah Ratu (Gunung Bunder)
Meski tidak setinggi gunung lain di Jawa Barat, medan pendakian Gunung Salak tergolong sulit karena vegetasi rapat dan minimnya sumber air di jalur pendakian⁽³⁾.
Dengan keindahan, sejarah, dan tantangan yang ditawarkan, Gunung Salak tetap menjadi magnet bagi pecinta alam, spiritualis, dan peneliti geologi.(*)












