Menurutnya, tragedi 28 Agustus adalah cermin krisis moral dan kepemimpinan. Ia menyebut DPR RI gagal menjadi penyalur aspirasi rakyat, pemerintah pusat abai, dan aparat bertindak represif. “Negara harus kembali ke rakyat, dan pemimpin kembali ke hati nurani,” tegasnya.
Gerakan Amarah Rakyat Sukabumi menyerukan solidaritas nasional. “Luka Sukabumi adalah luka bangsa. Hanya keberpihakan nyata negara yang bisa menyembuhkannya,” cetusnya.
Menanggapi tuntutan tersebut, Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki menyatakan bahwa seluruh aspirasi telah dicatat dan akan dikaji lebih lanjut. “Semua tuntutan akan kami pelajari, termasuk soal tunjangan DPRD. Tidak bisa dijawab spontan karena ada mekanisme dan konsekuensinya,” ujarnya singkat sebelum meninggalkan wartawan.(*)












