SUKABUMI — Kecamatan Cidahu, yang kini menjadi salah satu wilayah administratif di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menyimpan jejak sejarah yang kaya dan spiritualitas yang mendalam. Terletak di kaki Gunung Salak, wilayah ini tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kisah-kisah leluhur yang membentuk identitas masyarakatnya.
Salah satu tokoh penting dalam sejarah Cidahu adalah Pangeran Djojokusumo, yang lebih dikenal dengan sebutan Eyang Santri atau Eyang Girijaya. Ia merupakan cucu dari Pangeran Sambernyowo (Mangkunegoro I), tokoh besar dari trah Mangkunegaran di Jawa Tengah. Eyang Santri dikenal sebagai sosok spiritual yang memiliki daya batin luar biasa dan menjadi panutan masyarakat setempat.
Pada masa mudanya, Eyang Santri melakukan perjalanan keliling Pulau Jawa untuk menimba ilmu dari para ulama dan ahli kebatinan. Perjalanan tersebut membawanya ke berbagai tempat keramat, hingga akhirnya menetap di kawasan yang kini dikenal sebagai Padepokan Girijaya, Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu. Di tempat ini, ia membangun pusat spiritual dan pendidikan agama yang menjadi magnet bagi para peziarah dari berbagai penjuru Nusantara hingga mancanegara.
Wilayah Cidahu sendiri secara geografis berbatasan dengan Kabupaten Bogor di utara, Kecamatan Cicurug di timur, dan Kecamatan Parakansalak di barat. Tanahnya yang subur dan berhawa sejuk menjadikan Cidahu sebagai tempat ideal untuk pertanian dan wisata alam. Namun, wilayah ini juga memiliki potensi tanah longsor yang cukup tinggi, terutama di daerah Babakan Pari dan Tangkil.
Seiring waktu, Cidahu berkembang menjadi kecamatan yang memadukan nilai-nilai tradisional dengan modernitas. Warisan spiritual Eyang Santri tetap hidup dalam budaya lokal, sementara pembangunan infrastruktur dan sektor pariwisata terus menggeliat.
Cidahu bukan sekadar nama di peta. Ia adalah ruang hidup yang dibentuk oleh sejarah, spiritualitas, dan semangat masyarakatnya. Dari makam keramat di lereng Gunung Salak hingga suara riuh pasar desa, semuanya menyatu dalam narasi panjang tentang asal-usul dan jati diri sebuah kecamatan yang terus tumbuh.(*)












