SUKABUMI – Di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks, harapan akan persatuan dan toleransi kembali disuarakan dari jantung Kota Sukabumi. Minggu (28/9), ratusan peserta dari berbagai latar belakang berkumpul di Hotel Taman Sari untuk mengikuti Seminar dan Pelatihan Wawasan Kebangsaan yang digagas oleh Kesbangpol Provinsi Jawa Barat bersama Rumah Teduh Yayasan Teduh Insan Kreatif.
Mengusung tema “Jabar Istimewa, Indonesia Berdaya: Kolaborasi Lokal untuk Ketahanan Nasional”, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan lintas iman, lintas generasi, dan lintas komunitas. Di tengah suasana hangat dan penuh semangat, para peserta diajak untuk merenungkan kembali makna kebangsaan yang sejati—yang tidak hanya tertulis dalam konstitusi, tetapi hidup dalam tindakan sehari-hari.
Direktur Rumah Teduh, Handi Salam, membuka acara dengan pesan kuat tentang pentingnya membangun ruang kebersamaan yang mampu menumbuhkan solidaritas dan harapan. “Kami percaya bahwa transformasi sosial harus dimulai dari akar, dari komunitas, dari percakapan yang jujur dan inklusif,” ujarnya.
Sementara itu, Agung Munajat, Pembina Rumah Teduh, menyampaikan refleksi mendalam tentang nilai-nilai universal yang menjadi inti dari semua ajaran agama. Ia mengutip ayat-ayat dari Al-Qur’an, Alkitab, dan ajaran Konghucu untuk menunjukkan bahwa kebaikan, empati, dan gotong royong adalah bahasa yang menyatukan semua umat.
Seminar ini menghadirkan tiga narasumber utama yang memberikan perspektif dari berbagai bidang: Dani Hadianto dari Kesbangpol Jawa Barat, Daden Sukendar dari Komnas Perempuan RI, dan Dr. Rizki Hegia Sanpurna dari Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Ketiganya menyoroti pentingnya dialog lintas iman, penguatan nilai kemanusiaan, serta peran aktif masyarakat dalam menjaga keutuhan NKRI.
Diskusi berlangsung interaktif dan penuh semangat. Para peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga berbagi pengalaman, keresahan, dan harapan. Di tengah meningkatnya polarisasi sosial, kegiatan ini menjadi oase yang menyegarkan: tempat di mana perbedaan dirayakan, bukan ditakuti.
Rumah Teduh dan Kesbangpol Jawa Barat berharap bahwa kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan awal dari gerakan kebangsaan yang lebih luas dan berkelanjutan. “Ketika kita menyalakan harapan, kita sedang menyalakan masa depan,” tutup Agung dengan penuh keyakinan.(*)












