SUKABUMI — Di sudut Kampung Narogong, Desa Cicantayan, Sukabumi, seorang anak laki-laki berusia 14 tahun menjalani hari-harinya dalam diam. Namanya DS. Tubuhnya kurus, rambutnya gondrong, dan matanya jarang menatap dunia luar. Ia bukan tidak mampu, tapi seolah tenggelam dalam dunia yang hanya bisa diakses lewat layar kecil di genggamannya.
DS bukan satu-satunya anak yang tumbuh di era digital. Tapi ia adalah contoh nyata dari generasi yang kehilangan arah karena terlalu lama terpapar gadget tanpa pendampingan. Sejak pandemi Covid-19 melanda pada 2020, DS mulai akrab dengan layar. Awalnya untuk belajar, lalu beralih menjadi pelarian. Hari berganti malam, DS tetap terpaku pada dunia virtual yang tak pernah tidur.
Ibunya, satu-satunya orang yang berusaha memahami, kini kewalahan. DS mudah marah, emosinya meledak jika keinginannya tak dituruti. Ia menolak berinteraksi, bahkan dengan dirinya sendiri. Mandi, makan, bersosialisasi—semua jadi hal yang asing.
Senin, 25 Agustus 2025, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Cicantayan, Dasep, datang berkunjung. Ia melihat langsung kondisi DS. “Ini bukan sekadar anak yang kecanduan gadget. Ini adalah anak yang kehilangan arah, kehilangan dirinya,” kata Dasep lirih.
Langkah awal pun dirancang. TKSK akan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk mencari jalan keluar. DS butuh lebih dari sekadar larangan bermain gadget. Ia butuh ruang aman, pendampingan psikologis, dan yang paling penting: perhatian yang tidak menghakimi.
Kisah DS adalah alarm bagi kita semua. Bahwa teknologi, meski bermanfaat, bisa menjadi pisau bermata dua. Bahwa anak-anak tidak hanya butuh koneksi internet, tapi juga koneksi emosional. Dan bahwa di balik layar yang menyala, bisa saja ada jiwa yang perlahan meredup.(*)












