Nasional

Dari Rantai ke Ranting: Kisah Haru Orangutan Jojo di Ketapang

×

Dari Rantai ke Ranting: Kisah Haru Orangutan Jojo di Ketapang

Sebarkan artikel ini
seekor orangutan bernama Jojo akhirnya memanjat pohon untuk pertama kalinya.
seekor orangutan bernama Jojo akhirnya memanjat pohon untuk pertama kalinya.

KETAPANG — Setelah lebih dari dua dekade hidup dalam kurungan, seekor orangutan bernama Jojo akhirnya memanjat pohon untuk pertama kalinya. Momen bersejarah ini terjadi di enclosure hutan semi-liar milik Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Jojo, yang kini berusia 25 tahun, diselamatkan pada 2009 oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Kalimantan Barat dan YIARI. Saat ditemukan, ia dirantai di halaman belakang rumah warga, hanya bisa duduk dan berdiri di tempat yang sama, dikelilingi limbah tanpa perlindungan dari panas atau hujan. Rantai besi sepanjang 30 sentimeter telah menembus kulitnya, menyebabkan luka infeksi parah.

“Saat itu, saya hanya bisa membersihkan lukanya dan memindahkan rantai ke kaki sebelah. Belum ada tempat penyelamatan orangutan di Kalimantan Barat,” kenang Direktur Utama YIARI, Karmele Llano Sánchez.

Jojo telah dipelihara sejak bayi, dan saat diselamatkan diperkirakan berusia 10 tahun. Masa kanak-kanak dan remajanya — periode penting untuk belajar bertahan hidup di alam — telah hilang. Akibatnya, peluang untuk dilepasliarkan ke hutan bebas pun memudar.

Setelah dibawa ke pusat rehabilitasi yang dibangun pada 2012, tim medis menemukan Jojo menderita rakitis akibat kekurangan gizi dan sinar matahari. Ia juga mengalami pneumonia kronis dan disabilitas permanen yang membuatnya tidak mampu memanjat atau mencari makan secara mandiri.

Sebagai solusi, YIARI membangun enclosure hutan semi-liar seluas dua hektar pada 2022. Area ini dirancang sebagai tempat tinggal jangka panjang bagi orangutan yang tidak dapat dilepasliarkan karena kondisi kesehatan atau riwayat kurungan jangka panjang. Jojo kini tinggal di sana bersama orangutan lain seperti Monte dan Jimo.

“Melihat Jojo memanjat pohon, meski belum lincah, adalah bukti bahwa ia akhirnya merasakan secercah kebebasan yang dulu direnggut darinya,” ujar Karmele.

Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengapresiasi langkah YIARI. “Enclosure ini adalah bentuk komitmen jangka panjang terhadap kesejahteraan satwa yang tidak dapat dilepasliarkan,” katanya.

Momen Jojo menyentuh ranting pertamanya bukan hanya simbol kebebasan, tetapi juga pengingat bahwa setiap makhluk berhak atas ruang hidup yang layak — meski terlambat, meski terbatas.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *