SUKABUMI – Kecamatan Sagaranten, yang terletak di bagian selatan Kabupaten Sukabumi, menyimpan sejarah unik yang berakar dari kekayaan alam dan budaya lokal. Nama “Sagaranten” berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Sunda: sagara yang berarti lautan, dan inten yang berarti intan atau batu berkilau. Nama ini mencerminkan harapan dan citra wilayah yang dahulu dikenal sebagai penghasil batu mulia berkualitas tinggi.
Menurut penuturan warga dan sejarawan lokal, sejak era 1940-an hingga awal 2000-an, Sagaranten dikenal sebagai sentra pengrajin batu akik, terutama di Desa Datarnangka dan Kampung Gardu. Batu kuning (koneng) yang ditambang dari wilayah ini sempat diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat, menjadikan Sagaranten sebagai salah satu daerah penghasil batu akik terbesar di Jawa Barat.
“Nama Sagaranten bukan sekadar nama, tapi simbol kejayaan masa lalu. Batu-batu dari sini dulu bisa menghidupi satu kampung,” ujar Ujang Sulaeman, Ketua Paguyuban Batu Akik Indonesia, dalam sebuah wawancara.
Secara geografis, Sagaranten berada di jalur strategis yang menghubungkan Sukabumi dengan wilayah Tegalbuleud dan Cianjur Selatan. Wilayah ini memiliki kontur berbukit dengan ketinggian rata-rata 450 mdpl, dan dialiri oleh Sungai Cikaso serta Sungai Cibodas yang menjadi batas alam dengan kecamatan tetangga.
Kini, Kecamatan Sagaranten terdiri dari 12 desa dan terus berkembang sebagai wilayah agraris dan sentra kerajinan lokal. Meski kejayaan batu akik telah meredup, semangat wirausaha masyarakat tetap hidup, dengan banyak warga beralih ke sektor pertanian, perdagangan, dan industri rumahan.
Pemerintah Kabupaten Sukabumi menaruh perhatian khusus pada potensi wisata dan budaya di Sagaranten, termasuk rencana pengembangan jalur wisata berbasis sejarah dan geologi. Dengan warisan nama yang bermakna “lautan intan,” Sagaranten diharapkan kembali bersinar sebagai wilayah yang kaya akan nilai dan potensi.(*)












